Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menyebut semangat kurban relevan untuk memperkuat solidaritas sosial sekaligus menjembatani kesenjangan digital di tengah pesatnya perkembangan teknologi dan kecerdasan buatan atau artificial intelligence (AI).
Menurutnya, nilai kepedulian, gotong royong, dan kolaborasi menjadi fondasi penting dalam memastikan transformasi digital dapat dirasakan secara merata oleh seluruh masyarakat Indonesia.
Wamen Nezar menilai ibadah kurban tidak hanya dimaknai sebagai ritual tahunan, tetapi juga sebagai cerminan nilai kemanusiaan yang mendorong kepedulian sosial dan empati terhadap masyarakat yang membutuhkan.
“Ibadah kurban yang berakar kuat dalam tradisi Islam jauh lebih penting daripada sekadar ritual tahunan. Ibadah ini merupakan cermin kuat dari nilai-nilai kemanusiaan yang kita junjung bersama. Kurban mengajarkan arti kedermawanan dan mendorong kita memberi dengan tulus tanpa pamrih kepada mereka yang membutuhkan,” ujar Wamen Nezar Patria dalam acara Huawei I Do Care – Qurban 1447 H/2026 Donation di Masjid Istiqlal, Jakarta Pusat, Kamis (21/05/2026).
Menurut Wamen Nezar, nilai-nilai tersebut juga relevan dalam menghadapi perkembangan artificial intelligence yang berlangsung sangat cepat dan dinamis.
Era transformasi digital, lanjutnya, menghadirkan peluang besar sekaligus tantangan yang harus dihadapi melalui kerja sama dan komitmen bersama.
“Era ini menghadirkan peluang yang belum pernah ada sebelumnya sekaligus tantangan yang signifikan. Untuk mengarungi lanskap transformatif ini, kita harus mengambil inspirasi dari esensi semangat kurban, yakni bagaimana upaya kolektif, kerja sama, serta komitmen demi kemaslahatan bersama dapat mempercepat inovasi dan memperkuat kolaborasi kita di era kecerdasan artifisial,” jelasnya.
Ia menegaskan bahwa transformasi digital tidak hanya diukur dari dampak ekonomi, tetapi juga dari kemampuan teknologi dalam memberdayakan masyarakat dan memperkuat kehidupan sosial.
“Berbagai penelitian telah menunjukkan data dan angka yang merefleksikan dinamika serta potensi besar transformasi digital Indonesia. Namun, yang paling krusial bukan sekadar dampak ekonomi, melainkan bagaimana kita mampu memberdayakan masyarakat dan mentransformasi kehidupan sosial kita,” katanya.
Dalam kesempatan tersebut, Wamen Nezar juga menyoroti masih adanya kesenjangan akses digital di Indonesia.
Berdasarkan data Asosiasi Penyelenggara Jasa Internet Indonesia (APJII) 2026, penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 235 juta pengguna aktif, tetapi sebagian masyarakat di wilayah pedesaan dan pelosok masih belum terkoneksi.
“Meskipun penetrasi internet di Indonesia telah mencapai 235 juta pengguna aktif berdasarkan data APJII 2026, perlu dicatat bahwa hampir 20 persen populasi kita, terutama di daerah pedesaan dan pelosok, masih belum terkoneksi. Ini merupakan kesenjangan yang harus kita atasi melalui strategi yang jelas, solidaritas yang kuat, dan komitmen yang nyata,” ungkapnya.
Untuk mengatasi tantangan tersebut, Kementerian Komunikasi dan Digital terus memperkuat pembangunan infrastruktur telekomunikasi yang inklusif, sekaligus meningkatkan literasi dan keterampilan digital masyarakat agar konektivitas yang tersedia dapat dimanfaatkan secara efektif, aman, dan produktif.
“Dalam konteks Komdigi, pengembangan infrastruktur yang inklusif terus kami lakukan, termasuk penguatan literasi dan keterampilan digital. Kami membekali masyarakat agar mampu memanfaatkan infrastruktur telekomunikasi yang telah terbangun sehingga menjadi meaningful connectivity yang mendukung kegiatan sosial ekonomi, belajar mengajar, serta aktivitas sosial budaya lainnya,” ujar Wamen Nezar.
Selain infrastruktur, pembangunan talenta digital juga dinilai menjadi faktor penting dalam mendukung transformasi digital nasional.
“Tentu saja pembangunan digital tidak ada artinya tanpa pembangunan talenta. Kita membutuhkan sumber daya manusia yang kreatif dan inovatif untuk memanfaatkan keunggulan jaringan telekomunikasi yang telah terbangun,” tegasnya.
Wamen Nezar berharap nilai-nilai kedermawanan, kepedulian, dan solidaritas yang tercermin dalam ibadah kurban dapat menjadi landasan dalam menghadapi era artificial intelligence menuju visi Indonesia Emas 2045.
“Dengan menjalankan nilai-nilai kedermawanan, kepedulian, dan solidaritas, kita dapat memastikan bahwa artificial intelligence menjadi instrumen yang kuat bagi kemajuan bangsa sehingga manfaatnya dapat dirasakan oleh seluruh masyarakat Indonesia menuju visi besar Indonesia Emas 2045,” pungkasnya.
Siaran Pers No. 75/HM-KKD/5/2026
Jumat, 22 Mei 2026