AI Kini Jadi Instrumen Geopolitik, Wamen Nezar Patria Ingatkan Lindungi Data Strategis untuk Jaga Ketahanan Nasional
AI Kini Jadi Instrumen Geopolitik, Wamen Nezar Patria Ingatkan Lindungi Data Strategis untuk Jaga Ketahanan Nasional
komdigi.go.id
Kamis, 06 Agustus 2026 - 10:00
Kategori Siaran Pers

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menegaskan bahwa kecerdasan artifisial atau Artificial Intelligence (AI) telah berkembang menjadi instrumen geopolitik yang memengaruhi daya saing, keamanan, dan ketahanan suatu negara.

Oleh karena itu, Indonesia perlu memperkuat pelindungan data strategis dan membangun sistem keamanan siber yang mampu menghadapi perkembangan teknologi AI yang semakin otonom.

"Artificial intelligence bukan hanya teknologi, tetapi sudah menjadi instrumen geopolitik," ujar Wamen Nezar dalam acara Pemantapan Nilai-Nilai Kebangsaan bagi Pertamina Group di Lembaga Ketahanan Nasional (Lemhannas), Jakarta Pusat, Rabu (05/08/2026).

Wamen Nezar menjelaskan perkembangan AI telah memasuki fase baru melalui agentic AI, yaitu sistem yang mampu bernalar, mengambil keputusan, dan menjalankan berbagai tugas secara mandiri.

Berbeda dengan generative AI yang menghasilkan konten berdasarkan perintah pengguna, agentic AI dapat merencanakan tindakan, berinteraksi dengan sistem lain, hingga menyelesaikan pekerjaan secara otomatis sesuai tujuan yang diberikan.

"Agentic AI memiliki kemampuan reasoning dan decision making sendiri," katanya.

Menurut Wamen Nezar, kemampuan tersebut membuka peluang besar untuk meningkatkan produktivitas di berbagai sektor, mulai dari layanan pelanggan, pemasaran, kesehatan, energi, hingga layanan publik.

Namun, di saat yang sama, teknologi itu juga meningkatkan risiko terhadap keamanan data dan sistem digital.

Ia menegaskan data kini menjadi aset paling bernilai karena menjadi fondasi utama bagi pengembangan AI.

Semakin besar kemampuan AI, semakin besar pula kebutuhan untuk melindungi data yang menjadi sumber pembelajarannya.

"Data menjadi benda yang paling berharga dan harus dilindungi karena AI tidak bisa bekerja tanpa data," ujarnya.

Wamen Nezar mengingatkan bahwa data strategis, seperti data energi, cadangan minyak, infrastruktur digital, telekomunikasi, dan layanan publik, memiliki keterkaitan langsung dengan ketahanan nasional.

Dalam situasi geopolitik yang semakin dinamis, data tersebut dapat menjadi sasaran berbagai bentuk pengintaian maupun serangan siber.

"Data data strategis memiliki dampak terhadap pertahanan nasional kita," tegasnya.

Menurut Wamen Nezar, tantangan tersebut akan semakin kompleks dengan hadirnya teknologi quantum computing yang diperkirakan mampu mengubah lanskap keamanan siber global.

Perkembangan tersebut mendorong pemerintah, industri, dan pengelola infrastruktur digital mulai menyiapkan pendekatan keamanan baru, termasuk mempelajari penerapan post quantum cryptography.

"Post quantum cryptography perlu mulai kita pikirkan," katanya.

Selain kesiapan teknologi, Wamen Nezar menilai penguatan sumber daya manusia menjadi faktor yang tidak kalah penting.

Indonesia membutuhkan sekitar 9 juta talenta digital pada 2030, sementara ketersediaan saat ini baru sekitar 3 juta orang.

Kesenjangan tersebut perlu dijawab melalui peningkatan kompetensi di bidang AI, keamanan siber, data science, machine learning, blockchain, dan Internet of Things.

"Kita harus menginvestasikan talenta digital untuk membangun cybersecurity yang lebih kuat," ujarnya.

Wamen Nezar juga mengingatkan bahwa keamanan siber tidak boleh lagi dipandang sebagai langkah yang dilakukan setelah terjadi serangan.

Setiap sistem digital harus dirancang dengan prinsip security by design sehingga aspek keamanan menjadi bagian dari proses sejak awal pembangunan.

Pemerintah, lanjutnya, telah memasukkan aspek keamanan sebagai salah satu pilar dalam Peta Jalan Nasional AI yang saat ini tengah menjalani proses penyelesaian di tingkat pemerintah.

Dokumen tersebut juga akan dilengkapi dengan pedoman etika AI sebagai acuan pengembangan dan pemanfaatan kecerdasan artifisial di Indonesia.

Wamen Nezar menegaskan Indonesia harus memanfaatkan posisi politik luar negeri yang bebas dan aktif untuk memperluas kerja sama internasional dalam pengembangan AI dan keamanan siber.

Menurutnya, penguasaan teknologi, pelindungan data, serta ketersediaan talenta digital akan menjadi faktor yang menentukan daya tahan bangsa menghadapi persaingan global di era AI.

"Ketahanan digital tidak lagi hanya ditentukan oleh teknologi yang dimiliki, tetapi juga oleh kemampuan kita melindungi data strategis, membangun talenta, dan memastikan keamanan menjadi bagian dari setiap transformasi digital," tegas Wamenkomdigi Nezar Patria.

Siaran Pers No. 151/HM-KKD/8/2026
Kamis, 6 Agustus 2026

Baca lebih lanjut di komdigi.go.id
< Kembali Ke Halaman Login