Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria meminta Aceh menyiapkan sumber daya manusia (SDM) yang menguasai sains, teknologi, teknik, dan matematika (STEM) sebagai bagian dari kesiapan menghadapi persaingan teknologi dan geopolitik global.
Menurut Wamen Nezar, posisi Aceh di ujung barat Indonesia membuat daerah ini memiliki peran strategis dalam menghadapi dinamika kawasan.
Aceh berada langsung di kawasan Selat Malaka yang menjadi salah satu jalur strategis dunia.
“Kita langsung berada di hotspot dan choke point Selat Malaka. Potensi konfliknya juga sangat tinggi. Kita semua harus bersiap, harus belajar dari bangsa-bangsa yang mengadopsi teknologi dan belajar keras untuk menguasai ilmu pengetahuan,” ujar Wamen Nezar saat memberikan kuliah tamu di International Centre for Aceh and Indian Ocean Studies (ICAIOS), Universitas Syiah Kuala, Banda Aceh, Sabtu (05/09/2026).
Wamen Nezar menilai posisi geografis tersebut harus diikuti dengan kapasitas ilmu pengetahuan dan teknologi yang memadai.
Aceh, kata dia, tidak cukup hanya menjadi wilayah yang berada di jalur strategis, tetapi perlu memiliki SDM yang mampu memahami dan menguasai teknologi yang semakin menentukan kekuatan suatu negara.
“Kita yang paling pertama, siapapun yang akan masuk ke Selat Malaka ketemu kita dulu. Jadi, kita harusnya menjadi pengawal yang terkuat di Selat Malaka,” katanya.
Untuk mencapai kondisi tersebut, Wamen Nezar melihat perguruan tinggi di Aceh memiliki peran penting.
Ia menyebut Universitas Syiah Kuala (USK) dan Universitas Islam Negeri (UIN) dapat menjadi bagian dari upaya menyiapkan generasi yang memiliki kemampuan STEM.
“Dibutuhkan pengetahuan, dibutuhkan sains yang mumpuni, teknologi juga yang kuat. Saya yakin dengan adanya USK dan UIN di sini, mungkin kita arahkan anak-anak mahasiswa atau anak-anak didik kita ini untuk bisa lebih mendalami STEM, science, technology, engineering, math. Itu sangat penting ke depan,” ujar Nezar.
Ia menyarankan penguatan pendidikan STEM menjadi salah satu prioritas dalam 5 sampai 15 tahun ke depan.
Menurutnya, kebutuhan tersebut muncul karena persaingan global semakin ditentukan oleh kemampuan negara menguasai teknologi dan ilmu pengetahuan.
Wamen Nezar menegaskan penguatan STEM tidak berarti mengesampingkan ilmu sosial.
Menurutnya, kedua bidang tersebut justru harus berjalan seimbang agar Indonesia memiliki kemampuan yang utuh dalam menghadapi perubahan teknologi dan dinamika geopolitik.
“Bukan berarti ilmu sosial tidak penting. Ilmu sosial juga sama pentingnya, tapi kita harus balance karena penguasaan ilmu sosial dengan STEM ini gap-nya terlalu jauh. Sebaiknya seimbang,” ujarnya.
Kebutuhan tersebut, kata Wamen Nezar, semakin penting karena teknologi kini menjadi bagian dari persaingan kekuatan nasional.
Negara tidak hanya bersaing melalui sumber daya alam dan jumlah penduduk, tetapi juga melalui kemampuan menguasai sains, teknologi, energi, semikonduktor, kecerdasan artifisial, dan komputasi.
Wamen Nezar menyebut Indonesia memiliki sejumlah modal strategis, mulai dari sumber daya alam, pasar domestik, jumlah penduduk yang besar, hingga potensi energi.
Namun, kemampuan komputasi Indonesia masih relatif kecil dibandingkan kebutuhan teknologi masa depan.
Ia juga mengingatkan bahwa kontribusi ekonomi digital Indonesia terhadap produk domestik bruto (PDB) masih sekitar 10 persen.
Dalam paparannya, angka tersebut jauh di bawah China, Amerika Serikat, dan Jepang yang berada di kisaran 50 persen.
Karena itu, penguasaan teknologi tidak dapat dipisahkan dari masa depan daya saing ekonomi Indonesia.
Bagi Aceh, pembangunan SDM STEM menjadi salah satu investasi jangka panjang agar posisi strategis geografis dapat berjalan beriringan dengan penguasaan pengetahuan dan teknologi.
Siaran Pers No. 181/HM-KKD/9/2026
Minggu, 6 September 2026