Wamen Nezar Patria: Tantangan Masyarakat Modern, Algoritma dan Disinformasi
Wamen Nezar Patria: Tantangan Masyarakat Modern, Algoritma dan Disinformasi
komdigi.go.id
Senin, 14 September 2026 - 22:00
Kategori Siaran Pers

Sejak era prasejarah, manusia telah berkomunikasi, berekspresi, dan berbagi pengetahuan melalui gambar dan simbol kuno.

Karya manusia prasejarah ini banyak ditemukan di berbagai tempat, seperti di dalam Taman Arkeologi Leang-Leang yang merupakan salah satu situs sejarah dan prasejarah di Kabupaten Maros, Sulawesi Selatan.

"Di situ ada gambar seperti padi, berarti sudah ada tindakan mengolah alam, sudah ada teknologi kapal yang digerakkan dengan dayung bersama," ujar Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria saat berdiskusi dengan sejumlah pegiat Sekolah Internet Komunitas (SIK) dalam kegiatan Rural ICT Camp 2026 yang dinisiasi oleh Common Room dan didukung oleh Relawan TIK Indonesia, Portkesmas, Combine Resource Institution (CRI), dan ICT Watch di ruang pertemuan Harper Maros, Sulawesi Selatan, Minggu (13/09/2026).

Wamen Nezar mengatakan kemampuan manusia berkomunikasi menjadi semakin baik ketika mulai mengenal tulisan.

Sejak ditemukannya mesin cetak oleh Johannes Gutenberg pada tahun 1440 lalu diikuti dengan pesatnya pertumbuhan teknologi dan konektivitas, terjadi ledakan informasi yang diterima manusia.

Saat ini, informasi mudah didapat dari genggaman ponsel pintar, didukung dengan semakin meratanya akses internet.

Wamen Nezar mengungkapkan ketika akses internet semakin luas dan teknologi kecerdasan artifisial berkembang cepat, masyarakat kini perlu memiliki kemampuan membedakan informasi yang benar dari narasi yang menyesatkan.

Di tengah ledakan informasi, media sosial, algoritma, dan kecerdasan artifisial, konektivitas tanpa kecakapan informasi dapat membuat masyarakat lebih mudah terpapar misinformasi dan disinformasi.

"Penting sekali tugas kawan-kawan di komunitas untuk menangkal disinformasi dan misinformasi," tegasnya.

Wamen Nezar menjelaskan perkembangan teknologi telah membuat informasi dan berbagai narasi menyebar semakin cepat.

Situasi tersebut dapat menyulitkan masyarakat modern dalam memilah fakta di tengah banyaknya informasi yang diterima setiap hari

“Teknologi mempercepat cerita-cerita itu menyebar sehingga kadang-kadang kita tidak bisa membedakan lagi mana yang benar, mana yang fakta,” ungkapnya.

Menurut Wamen Nezar, tantangan itu semakin kompleks karena platform media sosial menggunakan algoritma yang dapat membentuk lingkungan informasi berdasarkan kecenderungan penggunanya.

“Algoritma membentuk bilik gema, echo chamber, itu sekarang yang mengatur kita. Platform-platform membuat filter bubble,” jelasnya.

Karena itu, perluasan jaringan telekomunikasi perlu diikuti penguatan kemampuan masyarakat untuk memanfaatkan internet secara bijak dan bermanfaat.

Menurutnya, konten-konten negatif yang hadir di ruang digital dapat membawa efek buruk bagi warga dan budaya masyarakat.

"Komunitas dan masyarakat adat perlu menyusun strategi dan kebijakan lokal untuk memfilter konten-konten negatif yang dilarang adat," tuturnya.

Wamen Nezar mengajak masyarakat agar memanfaatkan konektivitas yang dibangun agar menghasilkan dampak nyata.

“Konektivitas harus melahirkan meaningful connectivity, impactful connectivity, konektivitas yang bermakna, konektivitas yang berdampak. Itu yang semua kita inginkan,” tegasnya.

Siaran Pers No. 191/HM-KKD/9/2026
Senin, 14 September 2026

Baca lebih lanjut di komdigi.go.id
< Kembali Ke Halaman Login