Wamen Nezar Patria Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Riset Digital dengan Tiongkok
Wamen Nezar Patria Jajaki Kerja Sama Pendidikan dan Riset Digital dengan Tiongkok
komdigi.go.id
Senin, 12 Oktober 2026 - 21:20
Kategori Siaran Pers

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria menjajaki penguatan kerja sama Indonesia dan Tiongkok di bidang pendidikan, riset, serta pengembangan teknologi digital untuk memperkuat kemandirian teknologi nasional.

Kolaborasi tersebut diarahkan agar Indonesia tidak hanya menjadi pasar teknologi, tetapi turut mengambil bagian dalam rantai pasok global industri digital, termasuk kecerdasan artifisial (artificial intelligence/AI).

“Ringkasnya, lima tahun ini kita coba pererat kolaborasi. Lalu kemudian kita juga inginkan lebih banyak investasi soal emerging technologies ini masuk ke Indonesia dan kita ingin menjadi bagian dari global supply chain di industri artificial intelligence ini,” ujar Wamen Nezar dalam audiensi dengan perwakilan Konsulat Jenderal Republik Indonesia (KJRI) Guangzhou di Kantor Kementerian Komdigi, Jakarta Pusat, Senin (12/10/2026).

Wamen Nezar menekankan pentingnya membangun kemitraan yang menghasilkan transfer pengetahuan, penguatan keterampilan, dan peningkatan kapasitas riset dalam negeri.

Menurut Wamen Nezar, kerja sama teknologi dengan Tiongkok perlu ditempatkan dalam strategi jangka panjang untuk membangun teknologi nasional yang berdaulat, berdaya, dan inklusif, sejalan dengan visi Indonesia Digital 2045.

Karena itu, investasi yang masuk perlu memberikan nilai tambah bagi industri nasional dan mendorong keterlibatan perguruan tinggi, lembaga riset, serta pelaku industri dalam menghasilkan inovasi.

Wamen Nezar menyatakan salah satu bidang yang perlu dijajaki lebih lanjut ialah pendidikan dan riset bersama dengan universitas di Tiongkok.

Melalui kolaborasi tersebut, Indonesia dapat memperkuat kapasitas sumber daya manusia, memperluas pertukaran pengetahuan, serta mengembangkan inovasi yang sesuai dengan kebutuhan dan potensi nasional.

“Kalau kita bicara soal kepentingan nasional, indikatornya kita harus melihat apakah ekosistem kita makin kuat, investasi kita makin kuat, dan R&D kita juga makin kuat, misalnya dengan melibatkan lembaga-lembaga riset, kampus, dan industri untuk membuat inovasi yang bisa menjadi keunggulan komparatif kita,” tegas Wamen Nezar.

Selain penguatan pendidikan dan riset, Wamen Nezar menyoroti pentingnya menghubungkan investasi teknologi dengan pengembangan industri nasional.

Menurutnya, Indonesia memiliki potensi sumber daya mineral yang dapat menjadi bagian dari rantai pasok industri AI global, mulai dari nikel dan kobalt hingga pasir silika untuk pengembangan material semikonduktor.

Ia menilai pengolahan sumber daya tersebut perlu diarahkan pada produk dengan nilai tambah lebih tinggi, seperti material untuk semikonduktor dan komponen pendukung industri teknologi.

Dengan demikian, Indonesia tidak berhenti pada ekspor bahan mentah, tetapi dapat memperluas peran dalam proses produksi dan inovasi teknologi.

“Jadi kita ingin ada investasi yang masuk, lalu nanti di situ ada co-creation dengan ekosistem yang kita punya, lalu kemudian bagaimana kita bersama-sama masuk dalam global supply chain,” kata Wamen Nezar.

Menurutnya, Indonesia perlu mengembangkan strategi kemitraan yang memungkinkan transfer teknologi sekaligus memperluas keterlibatan pelaku dalam negeri dalam proses produksi dan inovasi.

“Kalau di produk saja, itu sudah masuk pasar. Tapi bagaimana proses produksinya, ini yang paling penting. Kita ingin masuk ke ekosistem yang lebih besar, mulai dari industri energi, semikonduktor, chip, platform, sampai aplikasi,” tutur Wamen Nezar.

Siaran Pers No. 207/HM-KKD/10/2026
Senin, 12 Oktober 2026

Baca lebih lanjut di komdigi.go.id
< Kembali Ke Halaman Login