AI Bisa Buat Film, Wamen Nezar Patria: Sensor Film Hadapi Tantangan Baru
AI Bisa Buat Film, Wamen Nezar Patria: Sensor Film Hadapi Tantangan Baru
komdigi.go.id
Sabtu, 24 Oktober 2026 - 22:00
Kategori Siaran Pers

Kecerdasan artifisial (AI) kini mampu menghasilkan adegan film yang kian sulit dibedakan dari kenyataan.

Perkembangan ini menghadirkan tantangan baru bagi penyensoran film, mulai dari derasnya produksi konten hingga risiko adegan kekerasan dan pornografi yang dihasilkan AI.

Wakil Menteri Komunikasi dan Digital Nezar Patria mengatakan teknologi AI saat ini telah memungkinkan seseorang tanpa keahlian di bidang sinema untuk mampu membuat video dan film sendiri.

“Inovasi teknologi mengubah cara-cara produksi dalam dunia perfilman. Perubahan alat produksi ini membuat produksi film bisa diakses oleh siapa saja dan pembuatan film menjadi lebih demokratis. Namun, film dengan kualitas sinematik tetap membutuhkan keterampilan dan rasa estetika yang tinggi,” ujar Wamen Nezar dalam acara Peningkatan Kompetensi dan Pengembangan Diri di Lingkungan Lembaga Sensor Film (LSF) di Bogor, Jawa Barat, Jumat (23/10/2026).

Wamen Nezar menjelaskan AI generatif menjadi salah satu perkembangan yang perlu dicermati karena mampu menghasilkan konten baru melalui pemrosesan data.

Teknologi tersebut tidak hanya membantu pembuatan gambar, tetapi juga dapat menghasilkan suara dan meniru karakteristik seseorang.

Kemampuan ini membuka peluang dalam produksi film, tetapi juga berpotensi menimbulkan persoalan ketika konten buatan AI disajikan seolah-olah merupakan rekaman atau peristiwa nyata.

Menurut Wamen Nezar, perkembangan konten berbasis AI telah terlihat pada berbagai platform digital, termasuk melalui film pendek dan drama yang diproduksi menggunakan teknologi generatif.

Konten tersebut dapat menghadirkan adegan kekerasan, pornografi, maupun materi yang menantang norma.

Karena itu, kemampuan teknologi menghasilkan konten secara cepat dan realistis perlu diikuti kecermatan dalam menilai isi serta dampaknya terhadap masyarakat.

“Generative AI bisa menciptakan sesuatu yang baru. Dengan teknologi ini, kita bisa membuat gambar atau foto, bahkan menduplikasi suara seseorang untuk mengatakan sesuatu yang sebenarnya tidak pernah dia ucapkan,” jelas Wamen Nezar.

Wamen Nezar menilai perkembangan tersebut menjadi tantangan bagi LSF yang memiliki tanggung jawab menilai film dalam jumlah besar.

Ia menyebut LSF memiliki sekitar 110 orang yang menangani penyensoran terhadap 40 ribu film setiap tahun.

Besarnya volume pekerjaan menunjukkan pentingnya dukungan teknologi untuk membantu proses penilaian, sekaligus mempertahankan ketelitian dalam memahami isi setiap karya.

Dalam konteks tersebut, Wamen Nezar menekankan bahwa AI juga dapat dimanfaatkan untuk membantu mengenali adegan dan mengidentifikasi unsur tertentu dalam film.

Namun, keputusan akhir tetap membutuhkan kendali manusia.

“AI bisa membantu mengenali adegan, tetapi belum tentu memahami konteks dan pesan yang ingin disampaikan dalam sebuah karya. Ketika kita hanya melihat hasil identifikasi mesin, ada kemungkinan pesan cerita yang sebenarnya tidak tertangkap. Karena itu, proses penilaian tetap membutuhkan manusia,” tegas Wamen Nezar.

Wamen Nezar mendorong LSF memperkuat kompetensi dalam memahami cara kerja AI, mengenali keterbatasannya, serta menilai penggunaannya dalam produksi dan penilaian film.

Literasi tersebut juga perlu mencakup pemahaman hukum dan etika, termasuk bagaimana memastikan transparansi, akuntabilitas, keamanan, dan penilaian risiko dalam penggunaan teknologi.

Penguatan literasi AI, lanjut Wamen Nezar, penting agar LSF dapat merespons perkembangan industri perfilman tanpa mengabaikan tanggung jawab penyensoran.

Siaran Pers No. 235/HM-KKD/10/2026
Sabtu, 24 Oktober 2026

Baca lebih lanjut di komdigi.go.id
< Kembali Ke Halaman Login